Poros Maritim Dan Tantangan Laut Tiongkok Selatan

Deasy Silvya Sari

Abstract

Abstrak

 

Perlombaan reklamasi pulau sedang berlangsung di Laut Tiongkok Selatan sejak lima belas tahun terakhir. Perlombaan reklamasi dilakukan oleh pemerintah negara-negara Republik Rakyat Tiongkok (RRT) yang mengembangkan Fiery Cross Reef seluas 3.000m2, Vietnam yang mengembangkan Spratly Island seluas 550 m2, Malaysia yang mengembangkan Swallow Reef seluas 1.368m2, Filipina yang mengembangkan Thitu Island seluas 1.000m2, dan Taiwan yang mengembangkan Itu Aba seluas 1.195m2. Perlombaan reklamasi pulau tersebut akan berpengaruh pada zona ekonomi ekslusif (ZEE) masing-masing negara anggota ASEAN, termasuk Indonesia. Upaya penyelesaian sengketa di Laut Tiongkok Selatan telah diupayakan baik secara bilateral, maupun regional melalui ASEAN. Serangkaian dokumen kesepakatan telah dihasilkan antara negara-negara anggota ASEAN dengan Pemerintah RRT namun belum mampu mengurangi ego pihak bersengketa untuk menghentikan reklamasi. Terlebih, perlombaan reklamasi pulau disertai pengembangan dan peningkatan kapabilitas militer masing-masing negara bersengketa dari sisi kuantitas dan kualitas.

Dalam desain Poros Maritim Dunia yang digaungkan Pemerintah Indonesia sebagai rencana pembangunan wilayah maritim, Pemerintah Indonesia perlu menata strategi guna mengimbangi perlombaan reklamasi pulau dan kapabilitas militer tersebut. Tulisan ini bermaksud untuk mengkaji strategi Poros Maritim Indonesia dalam menghadapi perlombaan reklamasi pulau dan kapabilitas militer di Laut Tiongkok Selatan. Penulis melakukan studi literatur untuk mengumpulkan, menganalisis, dan interpretasi data, serta merancang strategi Poros Maritim Indonesia dengan menggunakan Regional Security Complex Theory (RSCT). Pemerintah Indonesia perlu mendesain strategi outward looking dalam desain Poros Maritim Indonesia guna menangkal strategi negara-negara lain yang mampu mengancam ketahanan NKRI, khususnya terkait dengan perlombaan reklamasi pulau dan kapabilitas militer di Laut Tiongkok Selatan.

Kata kunci: Indonesia, Laut Tiongkok Selatan, Poros Maritim, Regional Security Complex Theory (RSCT)

Full Text:

PDF

References

Bunyavejchewin, Poowin. A Regional Security Complex Analysis of the Preah Vihear Temple Conflict 1953-1962. Thailand: Walailak University. 2013.

Buzan, Barry. People, State and Fear: am Agenda for International Security Studies in the Post-Cold War Era. Colchester: ECPR Press. 2007.

Heryadi, Dudy, dkk. Peran ASEAN dalam Penyelesaian Sengketa Laut China Selatan. Laporan Akhir Penelitian Kelompok FISIP UNPAD. Jatinangor: FISIP UNPAD. 2012.

Yudha, Chandra Widya. Implementasi DoC dan Perundingan CoC di Laut Tiongkok Selatan. Jakarta: Direktorat Politik dan keamanan ASEAN, Kementerian Luar Negeri RI. 2016.

Indrawan, Jerry. “Perubahan Paradigma Pertahanan Indonesia dari Pertahanan Teritorial menjadi Pertahanan Maritim: Sebuah Usulan,” Jurnal Pertahanan 5, no. 2. (2015): 93-113.

Marsetio. “Manajemen Strategis Negara Maritim dalam Perspektif Ekonomi dan Pertahanan.” Orasi Ilmiah Wisuda ke XXVI Program Pasca Sarjana STIMA IMMI. Jakarta: Taman Mini Indonesia Indah, 2014.

Sudirman, Arfin. “Ujian Sentralitas ASEAN di Laut Tiongkok Selatan,” Kompas. 2016.

Supandi, Ade. “Pembangunan Kekuatan TNI AL dalam Rangka Mendukung Visi Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia,” Jurnal Pertahanan 5, No. 2. (2015): 1-51.

Yani, Yanyan M & Montratama, Ian. “Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia: Suatu Tinjauan Geopolitik,” Jurnal Pertahanan 5, no. 2. (2015): 25-51.

Yudhistira, Andi. “Over-The-Horizon Radar (OTHR) untuk Menjaga Wilayah Udara dan Laut Indonesia,” Jurnal Pertahanan 5, no. 2. (2015):: 133-148.

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2017 Jurnal Penelitian Politik - Pusat Penelitian Politik - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2P-LIPI)

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivatives 4.0 International License.